Rupiah Dibuka Lemah ke Rp17.723 per Dolar AS di 26 Agustus 2026

Smallest Font
Largest Font

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bergerak melemah pada Rabu, 26 Agustus 2026, setelah rupiah ditutup di Rp17.723 per dolar AS pada Selasa, 25 Agustus 2026. Penguatan indeks dolar AS juga hanya tipis, sementara DXY tercatat turun tipis ke 98,92. Kondisi ini menjadi perhatian pelaku usaha dan rumah tangga yang memantau biaya impor serta pembiayaan dolar.

Di pasar, rupiah spot melemah 0,03% ke Rp17.723 per dolar AS pada penutupan Selasa, 25 Agustus 2026. Indeks Dolar AS (DXY) turun 0,07% ke 98,92 pada penutupan perdagangan kemarin, meski sempat menguat ke sekitar 98,99 pada perdagangan sebelumnya. Sementara itu, pelaku pasar menilai ekspektasi suku bunga Federal Reserve masih menjadi penentu arah mata uang.

Untuk perdagangan hari Rabu, 26 Agustus 2026, sejumlah proyeksi kisaran pergerakan rupiah beredar. KabarBursa memproyeksikan rupiah berada di kisaran Rp17.700 hingga Rp17.800. Kontan memperkirakan rentang Rp17.730 hingga Rp17.750, sedangkan CNBC Indonesia menyebut kisaran Rp17.680 hingga Rp17.723.

Angka acuan juga dipakai sebagai pembanding. Berdasarkan JISDOR Bank Indonesia pada 24 Agustus 2026, kurs rupiah tercatat Rp17.703 per dolar AS. Pada pembukaan Senin, 24 Agustus 2026, rupiah juga pernah bergerak di kisaran Rp17.680 per dolar AS.

Perbandingan harian sebagai sinyal tekanan

Pergerakan terkini menunjukkan rupiah cenderung masih tertekan dibanding level acuan JISDOR. Rupiah spot melemah ke Rp17.723 pada 25 Agustus, sedangkan JISDOR di 24 Agustus berada di Rp17.703. Selisih itu memperlihatkan tekanan berlanjut pada awal pekan meski DXY tidak menguat tajam.

Dalam perdagangan global, yield surat utang pemerintah AS menjadi salah satu variabel yang dilihat pasar. Berdasarkan Aktualita, yield Treasury AS tenor 10 tahun naik ke 4,738% dan tenor 30 tahun naik ke 5,276%. Kenaikan imbal hasil ini sering dikaitkan dengan daya tarik aset berbasis dolar, sehingga memengaruhi arus modal dan ekspektasi nilai tukar.

Ekspektasi suku bunga AS dan faktor makro yang membayangi rupiah

Menurut Bisnis.com, peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve minimal 25 basis poin pada pertemuan September turun dari 55% menjadi 40,1%. Perubahan ekspektasi itu selaras dengan pergerakan DXY yang turun tipis pada penutupan, namun tidak otomatis membuat rupiah menguat.

Masih dari Bisnis.com, Menteri Keuangan AS juga berencana menggandakan nilai pembelian kembali surat utang pemerintah AS bertenor panjang secara kuartalan. Langkah kebijakan di pasar surat utang seperti ini biasanya ikut memengaruhi likuiditas dan sentimen terhadap imbal hasil dolar, yang pada akhirnya berdampak ke kurs rupiah.

Di sisi domestik, Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 5,75%. Penetapan ini menjadi jangkar sentimen untuk pasar keuangan Indonesia, termasuk ketika variabel eksternal—seperti DXY dan yield Treasury AS—masih berfluktuasi.

Catatan aktivitas bursa dan dampaknya pada likuiditas

Bursa Efek Indonesia libur pada Selasa, 25 Agustus 2026, bertepatan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW, lalu kembali buka pada Rabu, 26 Agustus 2026. Aktivitas yang kembali normal pada hari ini biasanya memengaruhi perputaran transaksi dan kebutuhan valas di pasar finansial domestik.

Angka kunci yang perlu dipantau hari ini

Berikut ringkasan angka yang menjadi acuan dalam memantau kurs dolar terhadap rupiah hari ini berapa pada Rabu, 26 Agustus 2026, berdasarkan data yang tersedia dari referensi laporan.

KomponenNilaiReferensi & Tanggal
Rupiah spot (penutupan)Rp17.723 / US$25 Agustus 2026
DXY (penutupan)98,92Penutupan kemarin (acuan laporan)
JISDOR BIRp17.703 / US$24 Agustus 2026
Yield US 10 tahun4,738%Dalam laporan Aktualita
Yield US 30 tahun5,276%Dalam laporan Aktualita

Para pembaca kerap menanyakan "apa pengaruh suku bunga AS ke rupiah" dan "kenapa rupiah melemah sekarang" karena dua variabel ini saling terkait lewat ekspektasi nilai tukar dan aliran modal. Pada 26 Agustus 2026, ekspektasi suku bunga Federal Reserve yang berubah tipis dan pergerakan DXY yang tidak stabil tetap menjadi latar utama, sementara domestik menahan pelemahan dengan BI Rate 5,75%.

Pelaku pasar juga mengkaji konteks neraca transaksi berjalan. Berdasarkan Aktualita, defisit transaksi berjalan Indonesia kuartal II-2026 mencapai US$12,49 miliar, naik dari US$3,58 miliar kuartal sebelumnya. Angka itu menjadi pengingat bahwa kebutuhan valas di ekosistem transaksi berjalan dapat memengaruhi sentimen nilai tukar.

Informasi kurs ini bersifat pemberitaan berbasis data pasar dan bukan saran investasi. Konsultasikan dengan penasihat keuangan sebelum mengambil keputusan.

N/A | KOMPASTV MADIUN
Pada 26 Agustus 2026, fokus pasar tetap pada bagaimana DXY, yield Treasury AS, dan kembali aktifnya transaksi bursa mendorong permintaan maupun penawaran dolar terhadap rupiah.

  • DXY turun ke 98,92 pada penutupan perdagangan kemarin, tetapi rupiah spot tetap melemah.
  • Rupiah spot ditutup Rp17.723 pada 25 Agustus, dengan acuan JISDOR Rp17.703 pada 24 Agustus.
  • BI Rate dipertahankan 5,75%, sementara ekspektasi kenaikan suku bunga AS untuk September dinilai menurun.

Follow lenterarakyat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow